Selamat Datang di Blog Desa Panjalinan. Silahkan menikmati postingan disini dan anda dapat mengetahui semua potensi yang ada di Desa Panjalinan

Halaman

Kamis, 01 Februari 2018

Budaya

Masyarakat desa Panjalinan yang masih berpegang teguh pada budaya masyarakat tradisional memberikan asumsi positif serta pengetahuan terkait ragam budaya asli Indonesia. Sosial budaya masyarakat yang dijalankan di desa Panjalinan yaitu Pengajian Rutin dan Terater. Pengajian rutin biasanya dilaksanakan setiap  setelah sholat magrib pada malam jum’at. Selain pengajian rutin mingguan, terdapat pula Khatmil Qur’An setiap satu bulan sekali tepatnya disetiap awal pergantian bulan di kalender Hijriah. Antusias masyarakat setempat dalam mengikuti pengajian dikarenakan kuatnya pengetahuan agama yang melekat dalam diri masyarakat. Kegiatan pengajian rutin yang dilaksanakan biasanya diikuti oleh para laki-laki masyarakat desa Panjalinan. 
Budaya kedua yang masih berjalan di desa Panjalinan sampai detik ini yaitu Ter-ater. Ter-ater adalah kegiatan yang dilakukan oleh perempuan dan anak-anak untuk  menghantarkan makanan atau kue ke tetangga mulai yang terdekat sampai yang jauh.  Tujuan utama dari pengadaan Ter-ater yaitu untuk menyambung serta memperkuat hubungan tali silaturahmi. Ter-ater  secara rutin dilakukan setiap hari kamis sore yang ditujukan untuk guru ngaji atau Kiyai yang lazim disebut “Arebbha”. Selain itu, Ter-ater juga dilakukan ketika ada hajatan atau acara-acara besar seperti Syukuran, Perkawinan, Maulid Nabi, dan Lebaran.

Ter-ater yang dilakukan pada saat lebaran adalah kesenangan serta hiburan tersendiri yang dirasakan oleh masyarakat terutama anak-anak yang ikut Ter-ater karena biasanya akan diberikan uang saku sebagai tanda terimakasih.
Indonesia yang kaya akan ragam budaya dapat dilihat dari berbagai budaya yang masih dijalani masyarakat desa Panjalinan. Selain ter-ater masyarakat desa Panjalinan mengadakan ritual khusus anak-anak ketika gerhana bulan terjadi.  Seperti yang terjadi pada akhir bulan Januari tepatnya tanggal 31 Januari 2018, para sesepuh desa menyiapkan kaca,  air bunga serta menyalakan dupa beserta kemenyan. Saat terjadi gerhana bulan total anak – anak dibawa keluar rumah untuk diangkat tepat diatas dupa dan kemenyan yang dibakar.  Kemudian para sesepuh mengusapkan asap keseluruh  tubuh anak-anak. Ritual gerhana bulan total adalah ritual yang paling dinantikan oleh masyarakat desa Panjalinan. Hal tersebut, dikarenakan kepercayaan masyarakat yang beranggapan bahwa ketika gerhana bulan terjadi dan anak-anak dibawa keluar rumah untuk melakukan ritual maka sang anak akan memiliki kepribadian positif dan memiliki postur tubuh yang tinggi.

Gambar: Bahan Ritual Gerhana Bulan 
(doc. pribadi)